Sabtu, 16 November 2013

BENIH UDANG UNGGUL INDONESIA MAMPU HASILKAN 20 TON PER HEKTAR

jakarta, 29/9/2013 (Kominfonewscenter) – Melalui uji coba budidaya skala intensif, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah berhasil mengembangkan benih udang unggul dengan nama Udang Vaname Nusantara –1 atau Udang VN-1 yang mampu menghasilkan produksi sangat tinggi dengan tingkat kematian cukup rendah.
Demikian dikemukakan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto pada kunjungan kerja di Kabupaten Situbondo Jawa Timur, seperti diberitakan Pusdatin KKP baru-baru ini.
Menurut Slamet, Udang VN-1 dengan padat tebar 100 ekor/m2, survival rate (SR) 85% dan dibudidayakan selama 100 hari, mampu menghasilkan 20 ton/ha udang dengan ukuran panen 48 ekor/kg.
Slamet menjelaskan, Udang VN-1 akan menjadikan Indonesia tidak tergantung lagi  benih atau induk udang impor, bahkan dengan pengembangan intensif, Indonesia harus mampu mengekspor udang VN-1 ke negara ASEAN lainnya.
Apalagi, sebagai negara produsen udang yang bebas dari Early Mortality Syndrome (EMS) dan bebas residu, Indonesia memiliki peluang meningkatkan produksi  dalam negeri, dan tidak tergantung produk luar negeri.
“Ini membuktikan bahwa udang VN-1 yang sebelumnya hanya dibudidayakan secara tradisional atau semi intensif, mampu dibudidayakan secara intensif dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Apalagi udang VN-1 lebih sehat dan lebih aman dibandingkan udang dari negara lain,” jelas Slamet.
Untuk memenuhi target produksi udang tahun 2014 sebanyak 699 ribu ton, perlu didukung ketersediaan benih bermutu dan induk udang unggul.
Guna menjamin keberhasilan target budidaya udang tersebut, Udang VN-1 merupakan salah satu solusi.
Pada era perdagangan bebas ASEAN 2015, persaingan perdagangan udang akan semakin ketat, dengan pengembangan udang VN-1 bisa menjadi penopang produk perikanan nasional sekaligus mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Udang VN-1 ini merupakan produk asli dalam negeri yang siap menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena mampu bersaing dengan produk impor,” ujarnya.
Slamet menambahkan, KKP terus mendorong tumbuhnya wirausaha muda salah satunya melalui program bantuan model masyarakat berbasis kelompok masyarakat.
Menjadi wirausaha di bidang perikanan budidaya merupakan peluang bagi para pencari kerja, dan dukungan permodalan bagi para wirausaha muda dari perbankan juga sudah mulai digalakkan.
Profesi wirausaha muda merupakan profesi yang mulia, mampu memberikan lapangan kerja bagi orang lain, mandiri dan selalu selangkah lebih maju “Tapi belum banyak yang berminat, terutama oleh kaum muda,” katanya.  (moh)

benih udang galah di bali belum terinfeksi virus

Udang Galah merupakan udang air tawar yang berukuran paling besar dibandingkan dengan udang iar tawar lainnya. Udang ini terkenal dengan sebutan giant freshwater shrimp, Benih Udang Galah Bali tidak tercemar oleh benih yang lain…? Ir. I Made Gunaja, M.Si, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali mengatakan Udang galah spesifik dan menjadi unggulan kita banyak benih-nenih udang galah itu banyak dikembangan diluar Bali persoalannya adalah udang galah itu rentan sekali terhadap serangan virus, nah Bali ini salah satu pembenihan yang tidak terinfeksi serangan virusada lagi sekarang ini menyebar serangan virus namanya Early Mortality syndrome (IMS) ini yang perlu mendapat perhatian sehingga kita kedepan akan kita kembangkan, kalau disisi pasar tidak ada persoalan ujarnya  sebetulnya sangat banyak permintaan udang galah, satu kendala kita adalah masalah budidaya yaitu masalah air kadang-kadang  seperti Gianyar ini mengalami hambatan, intinya adalah pembenihan udang galah yang kita miliki BBUG di Klungkung akan terus kita kembangkan tahun depan kita akan  bangun lagi kegiatan-kegiatan ini dan ini merupakan unggulan kita yang kelebihanya karena perbenihan udang galah induk kita tidak terserang virus sampai saat ini katanya disela-sela pembukaan Rapat Kerja Mitra Praja Utama (MPU) di Hotel Bliss Wayan Jalan Sriwijaya No. 88 Legian Kuta Bali Kamis 5 September 2013 dengan peserta 25 orang dari 10 Provinsi di Indonesia.

Pranata Humas Penyelia

kiat kiat memilih benih udang windu

Kiat-kiat Memilih Benih Udang Windu
Benih merupakan salah satu faktor produksi yang sangat memegang peranan penting dalam menunjang keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon) di tambak. Lahan budidaya yang begitu ideal yang disertai pengelolaan yang sangat intensif akan sia-sia jika tanpa diimbangi dengan pemilihan benih yang baik. Dengan demikian teknik/prosedur memilih benih udang windu yang balk harus banyak diketahui secara benar oleh pembudidaya atau petani tambak.

Petani tambak kebanyakan mengandalkan feeling dalam memilih benih udang yang akan ditebar, sehingga tidak ada ukuran-ukuran yang secara kualitatif dan kuantitatif bisa dipakai sebagai acuan dalam membuat keputusan yang standar antara petani satu dengan yang lainnya. Pada tulisan ini akan mencoba merumuskan secara sederhana beberapa tahap dalam memilih benih udang windu yang secara teknis memungkinkan dilakukan oleh kebanyakan petani.

Tahap pertama: Mengamati penampilan benih secara langsung di bak produksi benih.

Tahap kedua: Mengamati penampilan sampel benih di waskom putih dan beaker glass.

Tahap ketiga: Melakukan uji daya tahan dengan test formalin shock salinitas. Tahap keempat: Melakukan pengiriman sampel benih terpilih ke laboratorium uji.

PRODUKSI DAN KUALITAS BENIH

Banyaknya jumlah pembenih udang windu, menyebabkan tingginya variasi benih yang diproduksi. Faktoryang paling berpengaruh adalah rendahnya harga benur, sehingga pembenih berusaha sehemat mungkin dalam perhitungan biaya opersionalnya. Pakan buatan maupun artemia sebagi pakan alami secara keseluruhan lebih dari 60 % biaya operasional, sehingga disinilah pembenih berusaha banyak menghemat dengan menurunkan standar kualitas pakan atau dosis penggunaannya.

Dengan kondisi seperti itu, maka kualitas benih akan menjadi sangat variatif. Petani tambak harus jeli dalam memilih benih yang baik. Lebih baik diarahkan pada benih yang baik walaupun harga relatif lebih mahal, daripada mendapatkan benih lebih murah, tetapi kualitasnya kurang baik.

EMPAT TAHAP MEMILIH BENIH UDANG WINDU

Tahapan pemilihan benih udang windu berupa benur dapat disusun berdasar tingkat kesederhanaan dalam melakukan pengamatan di masing-masing tahapan. Pada dasarnya dapat diba menjadi 4 tahap berikut:

1. Mengamati penampilan benih secara langsung di bak produksi benih

Dengan melihat langsung kondisi benih di bak pemeliharaan, maka akan menambah keyakinan terhadap kualitas benih yang akan dipilih. Benih yang baik pasti berada pada media pemeliharaan yang kondisinya baik pula. Dengan melihat langsung ke bak pemeliharaan akan tahu bagaimana kondisi kualitas airnya dan bagaimana kondisi benihnya di dalam bak. Pada tahap ini yang perlu diamati adalah ukuran, jumlah, gerakan dan kondisi air media.

Ukuran: seragam, relatif panjang (>1,0 cm), stadia >PL12, uropoda telah mengembang (mengalami pigmentasi), banyak menempel di dinding. Benih udang windu pada stadia >PL12, organ telah berkembang lengkap dan telah mempunyai daya adaptasi yang relatif kuat terhadap lingkungan baru tambak (Anonim,1999-a).

Jumlah : mencukupi kebutuhan, populasi di bak pemeliharaan termasuk padat (menunjukkan SR tinggi). Kriteria mencukupi kebutuhan diusahakan bisa dipenuhi dari satu sumber, dengan tujuan untuk mencegah terjadinya variasi pertumbuhan udang di tambaknya. SR yang tinggi menunjukkan bahwa pada masa proses produksi benih tidak mengalami kendala yang besar baik dari sisi lingkungan maupun penyakit.

Gerakan : aktif, resposifterhadap arah cahaya (bersifat fototaksis positif), jika diberi pakan menunjukkan respon yang sangat bagus (mendatangi di daerah yang banyak pakan). Benih yang sehat akan banyak bergerombol dengan gerakan yang atraktif sekali di daerah dekat permukaan air pada posisi arah datangnya cahaya. Untuk melihat respon terhadap pakan, aerasi dimatikan sebentar lalu ditabur pakan buatan di permukaan air, benih akan banyak berkumpul mendekati pakan (Anonim,1999-b).

Kondisi Air Media Pemeliharaan : plankton hidup, masir, bersih dan tidak berbau busuk, tidak banyak kotoran yang menempel baik di dinding maupun di dasar bak. Banyaknya kotoran di dinding atau dasar bak menunjukkan pengelolaan yang kurang baik. Ada kemungkinan manajemen pakan yang tidak tepat sesuai kebutuhan atau manajemen air yang kurang baik. Jika hal ini terjadi sebaiknya dihindari (benih tidak dipilih).

Secara umum melihat kualitas benih dengan melihat langsung di bak pemeliharaan relatif lebih mudah dibanding dengan hanya melihat sampel benih saja yang dibawakan oleh seseorang. Pengamatan skala sampel yang akan dijelaskan pada tahap kedua hingga keempat akan dilakukan hanya bila kondisi benih memang kelihatan bagus pada pengamatan tahap pertama ini.

2. Mengamati penampilan benih di waskom putih dan beaker glass

Setelah lolos pada pengamatan tahap pertama, maka mulai mengambil sampel benih untuk diamati lebih lanjut. Pengamatan sampel benih secara sederhana untuk dilaksanakan di lapangan oleh petani adalah mengamati benih dengan waskom putih dan beaker glass. Pada tahap ini yang perlu diamati adalah : warna tubuh, keseragaman ukuran, gerakan, warna mata dan makro parasit (parasit yang berukuran besar).

Dengan waskom putih maka kecenderungan penampilan keseragaman benih. Kekuatan benih akan lebih jelas terlihat dari pada melihat di bak tanpa alat bantu. Saat diputar air dalam waskom, maka benih yang sehat akan cepat berpencar dan berenang menentang arus air. Benih yang lemah akan tetap terdiam di tengah waskom, semakin sedikit benih yang terdiam di tengah waskom berarti semakin banyak proporsi benih yang sehat. Warna tubuh benih tergantung dari warna plankton dominan yang tumbuh dan warna dinding bak, pada umumnya benih berwarna coklat-kehitaman transparan (bening). Ukuran relatif panjang dan seragam.

Dengan beaker glass penampilan benih akan lebih jelas lagi untuk melihat secara lebih detail tentang kelengkapan organ, warna tubuh dan kemungkinan kotoran yang menempel di permukaan tubuh (parasit). Benih yang sehat akan terlihat aktif kaki renangnya, organ lengkap dan berkembang normal serta kelihatan bersih tidak berparasit. Dengan beaker glass parasit yang berukuran besar akan kelihatan, misalnya sering disebut dengan udang bersepatu. Mikroparasit memang tidak akan mampu terdeteksi dengan cara ini, melainkan harus dengan bantuan mikroskop. Mata tidak berwarna putih perak, benih dengan mata berwarna putih perak merupakan salah satu indikator benih dalam kondisi lemah, sensitif terhadap perubahan lingkungan.

3. Melakukan uji daya tahan dengan test formalin dan shock salinitas

Setelah lolos pada pengamatan tahap pertama dan kedua, perlu dilakukan pengamatan tahap ketiga yaitu uji daya tahan benih. Uji daya tahan/stress test ini yang mudah dilakukan di lapangan adalah dengan perendaman formalin dan shock salinitas (Sumarwan, 2003).

Uji daya tahan terhadap formalin ini penting dilakukan karena nanti saat panen benur harus dilakukan skrinning secara total sebelum dipacking. Jika pada uji daya tahan terhadap formalin dengan skala sampel menunjukkan SR yang rendah (misalnya kurang dari 90%), maka akan sangat beresiko pada skrinning masalnya. Karena dosis dan lama waktu perendaman pada skrinning masal sama dengan pada saat uji daya tahannya. Pada test formalin dilakukan perendaman benih dalam larutan formalin selama 30 menit, kemudian dihitung kelangsungan hidupnya (SR). Benih dianggap baik jika SR pada test formalin mencapai > 95%. Benih yang terinfeksi virus atau dalam kondisi lemah tidak akan kuat melalui tahap skrinning ini, sehingga diharapkan tidak akan menularkan penyakit saat dibudidayakan di tambak.

Pada uji daya tahan dengan shock salinitas, sampel benih dari air asin dimasukkan ke dalam air tawar selama 15 menit, kemudian dipindahkan ke air asin lagi selama 30 menit baru dihitung SR. Benih dianggap baik jika SR mencapai > 90%. Shock salinitas ini cenderung untuk menguji kekuatan benih, walaupun benih kelihatan bagus tapi jika daya tahannya lemah pasti akan banyak yang mati ketika direndam air tawar secara tiba-tiba.

4. Melakukan pengiriman sampel benih terpilih ke laboratorium uji

Pada pengamatan benih secara laboratorium kebanyakan petani tambak tidak mampu melakukan sendiri, sehingga bisa memanfaatkan jasa laboratorium uji terdekat. Pada pengamatan laboratorium pada umumnya dilakukan pengamatan secara mikroskopis terutama terhadap kelengkapan organ, nekrosis, saluran pencernaan, parasit, pigmentasi dan lain-lain. Selain itu untuk mendeteksi inveksi virus dilakukan pengamatan dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). PCR terutama diarahkan untuk mendeteksi jenis virus yang berbahaya misalnya SEMBV.

Pengamatan secara laboratorium bertujuan untuk memberikan data secara kualitatif maupun kuantitatif yang secara standar nasional dan atau internasional telah diakui keakuratannya. Namun demikian hasil uji laboratoriumjustru hanya bersifat melengkapi untuk menunjang pengambilan keputusan pemilihan benih sebar setelah melewati tahap pertama hingga ketiga diatas.

Setelah mendapatkan semua data pengamatan benih dan memutuskan mengambil salah satu sumber benih yang terpercaya, maka tahap berikutnya memanen benih. Pada saat memanen benih ini, maka harus dilakukan pemilahan. Benih yang dipacking dipastikan yang telah lolos pada perendaman formalin 200 ppm selama 30 menit. Jika terjadi perbedaan salinitas antara air tambak dengan air di bak pemeliharaan benih, maka perlu diupayakan untuk disesuaikan salinitasnya secara perlahan-lahan.

Sumber :
Media Budidaya Air Payau Nomor 4 Tahun 2004
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara

Butuh Benih Unggul Sukseskan Budidaya Udang

Butuh Benih Unggul Sukseskan Budidaya Udang
MedanBisnis - Jakarta. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan kesuksesan pencapaian target budidaya udang di Indonesia membutuhkan ketersediaan benih dan induk unggul guna menciptakan produksi yang berkelanjutan.
"Peningkatan target produksi udang memerlukan dukungan ketersediaan benih bermutu dan induk unggul udang dalam jumlah yang cukup secara berkesinambungan," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto, Jumat (15/11).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, target produksi komoditas udang pada tahun 2013 mencapai 608 ribu ton sedangkan pada tahun 2014 diprediksi untuk mencapai 699 ribu ton.

Apalagi, ia mengemukakan bahwa saat ini dengan adanya program revitalisasi tambak, dimana para pembudidaya udang mulai bangkit lagi untuk berbudidaya, sehingga para pembudidaya udang tersebut dinilai membutuhkan pasokan benih udang berkualitas yang cukup dan tepat waktu.

Sebelumnya, Slamet dalam sejumlah kesempatan juga mengklaim program revitalisasi tambak udang yang sedang digalakkan di sejumlah daerah dinilai mampu meningkatkan produktivitas komoditas udang Indonesia. "Program ini mampu meningkatkan produksi dan produktivitas tambak udang yang selama ini terbengkalai," katanya.

Menurut Slamet, pemanfaatan tambak yang selama ini terbengkalai selain meningkatkan produktivitas lahan juga mampu meningkatkan kesejahteraan petambak dan masyarakat.
Apalagi, ujar dia, peningkatan produksi udang nasional terus didorong untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan luar negeri.

Ia mengemukakan, program revitalisasi tambak yang dilakukan melalui pembuatan tambak percontohan (demfarm) telah mampu mendorong munculnya tambak-tambak baru di sekitar demfarm.

"Program ini merupakan bagian dari program revitalisasi pertanian, kehutanan dan perikanan yang telah dicanangkan oleh Presiden pada tahun 2005, dan baru terealisasi pada tahun 2012 di bawah komando Menteri Kelautan dan Perikanan," ujarnya.

Slamet juga mengatakan, sampai saat ini, penambahan luasan tambak sudah mencapai 360 hektare yang siap dan sedang operasional dan sekitar 150 hektare lagi sedang dalam konstruksi. Bahkan dari seribu hektar tambak yang direvitalisasi melalui program itu dinilai mampu menyerap tenaga kerja baik musiman maupun tetap sebanyak 130 ribu orang. (ant)

kkp kembangkan benih udang unggul

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah berhasil mengembangkan benih udang unggul yang dinamai Udang Vaname Nusantara –1 atau Udang VN-1.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, menuturkan melalui uji coba budidaya skala intensif,udang VN-1 mampu menghasilkan produksi sangat tinggi dengan tingkat kematian cukup rendah.
"Dengan padat tebar 100 ekor/m2, survival rate (SR) 85 persen dan dibudidayakan selama 100 hari, mampu menghasilkan 20 ton/ha udang dengan ukuran panen 48 ekor/kg,"kata Slamet dalam keteranganya di Jakarta, Kamis (26/9/2013)
Slamet menjelaskan, Udang VN-1 akan menjadikan Indonesia tidak tergantung lagi pada benih atau induk udang impor.
Bahkan menurutnya, dengan pengembangan intensif, Indonesia harus mampu mengekspor udang VN-1 ke negara ASEAN lainnya.
“Ini membuktikan bahwa udang VN-1 yang sebelumnya hanya dibudidayakan secara tradisional atau semi intensif, mampu dibudidayakan secara intensif dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Apalagi udang VN-1 lebih sehat dan lebih aman dibandingkan udang dari negara lain,” jelasnya.
Untuk itu, pengembangan udang VN-1 diharapkan bisa menjadi penopang produk perikanan nasional sekaligus mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“Udang VN-1 ini merupakan produk asli dalam negeri yang siap menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena mampu bersaing dengan produk impor,” ujarnya.

indonesia miliki benih udang unggul

Akhirnya, Indonesia miliki benih udang unggul


Akhirnya, Indonesia miliki benih udang unggul

Sindonews.com - Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah berhasil mengembangkan benih udang unggul, yaitu Udang Vaname Nusantara 1 atau udang VN-1. 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan, melalui uji coba budidaya skala intensif, udang VN-1 mampu menghasilkan produksi sangat tinggi dengan tingkat kematian cukup rendah. 

"Dengan padat tebar 100 ekor/m2, survival rate (SR) 85 persen dan dibudidayakan selama 100 hari, mampu menghasilkan 20 ton per hektare (ha) udang dengan ukuran panen 48 ekor per kg," kata dia dalam rilisnya, Kamis (

Slamet menuturkan, udang VN-1 akan menjadikan Indonesia tidak tergantung lagi pada benih atau induk udang impor. Bahkan dengan pengembangan intensif, Indonesia harus mampu mengekspor udang VN-1 ke negara ASEAN lainnya. 

Apalagi, kata dia, sebagai negara produsen udang yang bebas dari Early Mortality Syndrome (EMS) dan bebas residu, Indonesia memiliki peluang meningkatkan produksi dalam negeri, dan tidak tergantung produk luar negeri. 

"Ini membuktikan bahwa udang VN-1 yang sebelumnya hanya dibudidayakan secara tradisional atau semi intensif, mampu dibudidayakan secara intensif dengan tingkat keberhasilan tinggi. Apalagi udang VN-1 lebih sehat dan aman dibanding udang dari negara lain," jelasnya.

(izz)

budidaya benih udang galah dan cara pembesarannya

Pendahuluan
Udang galah (Macrobrachium Rosenbergii de Man) atau dikenal juga sebagai Giant Freshwater Shrimp merupakan salah satu jenis Crustacea, dari famili Palaemonidae yang mempunyai ukuran terbesar dibandingkan dengan udang air tawar lainnya. Komoditas ini diklaim oleh berbagai negara sebagai fauna asli, antara lain oleh India dan Indonesia. Di Indonesia, udang galah dapat ditemukan di berbagai wilayah dan masing-masing memiliki varietas dengan ciri tersendiri. Misalnya, udang galah dari Sumatera dan Kalimantan memiliki ukuran kepala besar, capit panjang, dan berwarna hijau kuning. Udang galah dari Jambi memiliki ukuran kepala lebih kecil, capit kecil dan berwarna keemasan. Pada Foto 1. dapat dilihat bentuk udang galah jantan dan betina, yang secara fisik berbeda. Perbedaan terutama pada “galah” yang didapati hanya pada udang galah jantan.

Di Indonesia komoditi ini dikembangkan antara lain oleh Lembaga Penelitian Perikanan Darat Pasar Minggu, Jakarta; Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Limnologi LIPI) dan beberapa lembaga di bawah Departemen Kelautan dan Perikanan antara lain: Balai Penelitian Perikanan Air Tawar di Sukamandi, Unit Pengembangan Udang Galah Pamarican, Ciamis dan Balai Budidaya Air Tawar di Sukabumi. Salah satu penelitian yang dilakukan memberikan hasil yang menggembirakan dengan diperkenalkannya strain udang galah jenis unggul (GI Macro) oleh Menteri Kelautan dan Perikanan pada 24 Juli 2001.
Selain penelitian mengenai strain udang galah unggul, upaya lain yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mengembangkan udang galah adalah dengan melakukan optimalisasi hatchery melalui perbaikan manajemen induk; dan manajemen kesehatan dan lingkungan. Disamping itu, dilakukan pula pengkajian wilayah potensi pengembangan udang galah guna mengembangkan kawasan terpadu mulai dari sub sistem pembenihan, pendederan dan pembesaran hingga pasca panen.
Komoditas yang di Indonesia mulai populer sejak lima tahun yang lalu ini juga banyak dikembangkan di kawasan Asia. Negara produsen terbesar adalah China diikuti Bangladesh, Taiwan dan Thailand. Dalam jumlah yang relatif kecil, komoditi ini juga diproduksi di India, Costa Rica, Ecuador, Brazil dan Malaysia.
Peluang pasar udang galah masih terbuka luas baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk pasar lokal, permintaan datang terutama dari wilayah yang banyak dikunjungi turis seperti Bali, Jakarta, Batam, dan Surabaya. Sementara pasar udang galah di luar negeri telah terbentuk di Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Kanada, Skotlandia, Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia dengan pasokan utama datang dari Thailand, Cina dan India.
Di India dan Malaysia budidaya udang galah sangat memperoleh dukungan dari Pemerintah, terutama dari sisi permodalan. Walaupun tidak disediakan skim kredit secara khusus namun skim kredit yang ada dapat digunakan untuk membiayai budidaya udang galah. Di India pinjaman disalurkan oleh National Bank for Agricultural and Rural Development (NABARD) yaitu bank milik Pemerintah yang khusus membiayai sektor pertanian. Sedangkan di Malaysia, pinjaman serupa disediakan oleh Bank Pertanian Malaysia. Pada Lampiran 2. disajikan informasi mengenai skim pembiayaan udang galah di Bank Pertanian Malaysia.
Di Indonesia, Pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan juga menyediakan bantuan modal yang disalurkan melalui dinas di tingkat kabupaten. Pinjaman ini juga tidak spesifik untuk udang galah. Sampai saat buku ini ditulis belum diperoleh informasi mengenai pemberian pinjaman dari perbankan di Indonesia untuk komoditi ini.
Berdasarkan penjelasan yang diperoleh dari Departemen Kelautan dan Perikanan, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang merupakan salah satu sentra penghasil udang galah di Indonesia ditetapkan sebagai wilayah survey dalam rangka penyusunan buku ini. Walaupun di seluruh wilayah DIY terdapat pengusaha udang galah namun informasi hanya digali dari pengusaha di Kabupaten Sleman, terutama dari pengusaha di desa Jamur, Sindangrejo, Minggir. Dengan demikian informasi teknis budidaya udang galah yang disajikan pada buku ini terutama menggunakan informasi yang diperoleh dari kondisi pengusaha dan lembaga lain di wilayah tersebut.
Budidaya udang galah di Sleman, Yogyakarta telah berkembang dengan baik walau masih dalam skala mikro. Sewaktu pertama kali dibudidayakan, usaha ini tidak mendapatkan per-hatian dari masyarakat. Sejalan dengan keberhasilan yang dicapai, akhirnya banyak petani yang mulai beralih profesi dari penanam padi menjadi pembudidaya udang galah. Walaupun tidak memerlukan perizinan dari instansi yang berwenang, namun untuk memulai usaha dalam budidaya udang galah di wilayah Sleman, diperlukan izin dari aparat desa dan masyarakat setempat.
Boks 1: Alamat Lembaga yang Disurvey di Yogyakarta.
Pada saat survey di DIY, beberapa lembaga yang dihubungi antara lain:

  1. Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah Istimewa Yogyakarta
    Jl. Gondosuli No. 2-A Yogyakarta
    Telp: (0274) 561030,
    Fax: (0274) 511031
  2. Asosiasi Pengusaha Udang Galah 
    Alamat sementara: Toko Lima Satu, Jl. Diponegoro No. 51 Yogyakarta; Telp. (0274) 514177
  3. Balai Benih Udang Galah
    Jl. Srigading Sanden, Samas (Pantai Samas), Bantul Kode Pos 55763; HP. 0822758821.
    Sumber : Data Primer
Usaha ini memberikan dampak yang positif terutama bagi masyarakat di sekitar tempat pembudidayaan. Dilihat dari sisi ekonomi usaha ini memberikan keuntungan yang ber-lipat apabila dibandingkan dengan bercocok tanam padi dan bagi pemilik lahan memberikan penghasilan dari usaha persewaan lahan non produktif. Akibat dari perlunya penyediaan kebutuhan untuk usaha antara lain penyediaan pakan, peralatan, obat-obatan dan pemasaran, muncul usaha lain yang mendukung usaha budidaya udang galah tersebut, misalnya, toko atau kios pakan dan saprokan serta pedagang pengepul khusus untuk udang galah. Untuk memenuhi kebutuhan akan benih, di desa Jamur telah didirikan pula suatu hatchery.
Didukung oleh lingkungan desa yang sejuk dan asri serta pemandangan yang indah, maka pada tahun 2002 desa Jamur dicanangkan sebagai Desa Wisata oleh Menteri Pariwisata. Di lokasi kolam didirikan dangau untuk tempat menikmati makanan dari hasil kolam berupa udang galah dan produk budidaya air tawar lain yang diolah secara langsung oleh penduduk setempat. Bagi warga setempat, pencanangan sebagai desa wisata merupakan hal yang membanggakan dan merupakan sarana untuk meningkatkan penghasilan.
Usaha ini juga memberikan manfaat dari sisi sosial, terutama dalam hal pemanfaatan tenaga kerja dari lingkungan masyarakat sekitar. Kaum muda yang semula tidak mempunyai ketrampilan dapat ditarik minatnya untuk ikut terjun secara langsung guna mempelajari cara membudidayakan udang galah. Dampak ikutannya adalah, tenaga kerja dari wilayah ini dinilai terlatih sehingga banyak dimanfaatkan oleh wilayah lain yang akan mengembangkan komoditi ini. Pemanfaatan tenaga kerja dari penduduk setempat juga menurunkan tingkat kriminalitas dan masalah-masalah sosial lainnya.
Budidaya udang galah tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, baik berupa limbah air kotor maupun bau amis, mengingat untuk melakukan budidaya udang galah, kolam harus memenuhi syarat-syarat untuk selalu menjaga kondisi air kolam dalam keadaan bersih dan tidak tercemar. Dengan demikian tidak ada kekuatiran terjadinya pencemaran lingkungan akibat maraknya pembudidayaan udang galah.
sumber.ikan mania.wordpress,com